Go….!!!! BLOG Writer Lagi Diare…Hu hu hu

Waduuh! sudah lama juga nggak nulis Blog! 

Minggu kemarin saya kena flu ditambah demam dan batuk berdahak. Walah lumayan parah deh! Anakku juga sampe ketularan. Kasihan dia hidungnya mampet dan rewel kalau malam.

 

MRH

MRH

 

 

Eee..flu dan demam hilang, sekarang datang DIARE!

Dua hari lalu saya sekeluarga menginap di rumah orangtua dan malamnya beli gorengan plus cabe rawitnya. Nah! pas pagi-pagi perut terasa berontak dan mulas. Benar saja saya langsung mencret air dan angin melulu. Total di rumah ortu saya BAB 3 kali.

Sorenya kami pulang dan saya sudah harus masuk kerja shift malam di warnet. Yang namanya lagi diare, kerjaan jadi nggak beres dan bolak-balik BAB di warnet. Sontak badan lemes dan pusing karena banyak cairan terbuang. Pada posisi itu saya langsung beli obat NORIT.

 

NORIT

NORIT

Apa itu Norit :

 

Norit : Karbon Aktif Penyerap Racun

Norit hanyalah salah satu nama dagang dari karbon aktif (ada yang menyebutnya arang aktif). Karbon aktif merek Norit ini diproduksi oleh NORIT Pharmaceuticals yang berbasis di Amersfoort, Nederland. Sedangkan merek lain misalnya,InstaCharSuperCharActidoseLiqui-Char, dll.

Bahan baku untuk membuat karbon aktif cukup beragam, antara lain : kayu, batu bara, kulit kacang, atau serbuk gergaji. Bahan baku ini kemudian ‘diaktifkan’ dengan cara kimia, yaitu dengan mencampurnya dengan asam, atau dengan cara mengukusnya menggunakan uap atau gas pada temperatur tinggi. Hasilnya adalah arang berwarna hitam legam, namun tak berbau dan tak berasa.

Jika karbon aktif diperiksa dibawah Scanning Electron Microscopy, akan terlihat pori-pori dalam jumlah yang sangat besar. Pori-pori ini mempunyai ukuran yang bermacam-macam. Pori-pori yang berukuran lebih dari 50 nm disebut macropores, 2 nm – 50 nm mesopores, dan di bawah 2 nm micropores. Jika kita hitung, maka 1 gram karbon aktif mempunyai luas permukaan pori-pori 0,5 sampai 1,5 kilometer persegi. Suatu jumlah yang luar biasa.

Dengan gaya Van der Walls yang dimilikinya, pori-pori yang sangat luas ini mampu menangkap berbagai macam bahan, termasuk bahan beracun. Oleh karena itu karbon aktif dapat digunakan pada kasus overdosis obat, keracunan makanan, atau tertelan bahan beracun. Namun, kemampuannya menangkap racun ini hanya terjadi di lambung dan usus, ketika zat beracun belum terserap dan masuk ke dalam peredaran darah. Sehingga, semakin cepat diberikan, semakin banyak racun yang dapat diserap.

Tidak semua bahan dapat diserap oleh karbon aktif. Beberapa diantaranya yang tidak dapat diserap adalah litium, asam atau basa kuat, logam dan bahan inorganik (misalnya, natrium, besi, timah, arsen, yodium, fluorin, dan asam borat), alkohol (misalnya etanol, metanol, isoprofil alkohol, glikol, dan aseton), dan hidrokarbon (seperti minyak tanah, bensin, oli, dan hidrokarbon tumbuhan seperti minyak pinus). Sehingga, pada kasus keracunan zat-zat ini, karbon aktif tidak boleh diberikan.

 

NAH! Obat ini sudah jadi kepercayaan saya sejak lama jika diare. Jadi saya langsung minum Norit 3 biji dan lanjut bekerja. 

Tidak lupa saya banyak minum untuk mengganti cairan yang hilang. Untuk masalah minuman ini saya percayakan pada Pocari Sweat yang ber-ion.

So, hari ini sudah agak lumayan diare berkurang. Dan ini yang penting saudara-saudara :

Diare tidak boleh dihentikan secara total oleh obat. Diare menandakan bahwa ada racun atau bakteri dalam sistem pencernaan dan sistem tubuh memerintahkan perut untuk membuang bakteri tersebut melalui diare. Biarkan proses ini berjalan alami selama 2-3 hari. Jika diare dihentikan (dimampatkan) maka kuman dan bakteri yang seharusnya dibuang akan ngendon di  usus. Biasanya diare akan berhenti sendiri. Jika lebih dari 3 hari diare masih melanda, segera konsultasi ke dokter. Dan yang terpenting paksakan MAKAN selama diare. Tentunya makan makanan yang “aman” saja ya.

Jadi saat tulisan ini diturunkan saya masih membawa Norit untuk jaga-jaga dan sebotol Pocari Sweat. 

Ngomong-ngomong jadi banyak iklan nih. Harusnya saya dibayar nih!

Note to self : Never eat cabe rawit again…..

Menghitung Tagihan Listrik Sendiri…Kenapa nggak?

Naaah..jadi ceritanya begini :

Tagihan listrik warnet saya bulan Januari 2009 (untuk pembayaran bulan Desember 2008 ) mencapai Rp. 2.6 juta-an. Sedangkan pada bulan Desember (untuk pembayaran bulan November 2008 ) adalah Rp. 2.2 juta-an. Jadi ada selisih sekitar 400 ribuan. Padahal pemakaian listrik sama saja tiap bulannya.

Jadi penasaran, gimana sih cara menghitung tagihan listrik kita ? Kita cari tahu yuk!

Setelah googling dengan keyword “cara menghitung tagihan listrik” saya dapat bejibun link yang memberitahu cara menghitung tagihan listrik. Namun pada akhirnya sampai juga ke situs resmi PLN yang terdapat simulasi perhitungan tagihan listrik.

Jadi langsung saja saya hitung tagihan listrik saya sendiri sebagai berikut :

Perhitungan tagihan listrik dibagi atas 4 (empat) komponen pokok, yaitu :

1. Bea beban

2. Perhitungan tagihan Blok I (akan dijelaskan nanti)

3. Perhitungan tagihan Blok II…dan seterusnya

4. PPJ (Pajak Penerangan Jalan) 3% dan PPN (?%)

Jadi jika saya hitung tagihan saya sendiri menjadi sebagai berikut :

listrik1

Seperti gambar diatas perhitungan pemakaian listrik dibagi atas beberapa blok. Blok I adalah perhitungan kWh hingga 754.6 kWh x Rp. 621/kWh. Jika pemakaian melebihi blok I ini maka masuk ke blok II yang tarifnya Rp. 1.380 per kWh. Mungkin saja perhitungan tagihan anda bisa dilanjutkan ke blok III yang tarif per kWh-nya saya belum tahu.

Dari hasil perhitungan diatas ternyata benar tagihan listrik warnet adalah Rp. 2.6 juta-an.  Sekarang saya jadi tahu, oooh..begini toh cara penghitungannya..

Di situsnya, PLN juga menyediakan info billing listrik kita. Jadi anda tinggal memasukkan 12 digit ID pelanggan untuk menggunakan fasilitas info billing tersebut.

Tapi selidik punya selidik saat artikel ini diturunkan situs PLN dan info billingnya sedang down..kemarin-kemarin juga down..payah juga nih 😀 😀

UPDATE:

Download Tabel TDL disini untuk melihat komponen harga perhitungan tagihan listrik

Konversi Mitan ke Gas? Harus !!

Selamat sore para pemirsa…

Masih jelas terbayang dalam ingatan saya pada masa-masa dahulu waktu ibu saya menggunakan kompor minyak tanah. 

Dengan cekatan ibu saya menenteng jerigen minyak yang bau itu dan dibawanya ke warung terdekat. Pulang kembali ke rumah langsung dituangkannya minyak tersebut ke kompor. Sebatang kayu diambilnya dan dibakar sedikit di ujungnya lalu di pakainya untuk menyalakan sumbu. Ketel air pun didudukkan di kompor sambil menunggu apinya meninggi.

Ah…masa-masa itu sudah lewat. Kini kompor minyak tanah ibu sudah digantikan dengan kompor gas single burner atau tungku tunggal. Begitu juga istri saya kini memasak menggunakan kompor gas.

Peralihan dari kompor minyak ke kompor gas bukannya tanpa masalah. Sejak pemerintah menggulirkan program konversi mitan ke gas ibu saya sudah berkomitmen tidak akan menggunakan kompor gas. Alasannya apalagi kalau bukan takut akan akibat buruk dari kompor gas. Meledak, bocor, melukai diri dan setumpuk ketakutan-ketakutan lainnya.

Wajar saja ibu saya takut. Karena banyak berita-berita yang beredar mengenai kecelakaan yang diakibatkan oleh kompor gas.  Jangankan memasak dengan kompor gas. Menyalakannya pun takut setengah mati!

 

Gas oh Gas

Gas oh Gas

 Tapi pada akhirnya ibu saya menyerah juga. Kompor gas diterimanya dengan setengah hati. Bukan karena berubah pikiran dan tidak takut lagi. Tapi lebih karena minyak tanah mulai sulit dicari di pasaran.  Jika ada pun harganya melambung tinggi. Akhirnya dengan berat hati dimulailah hari pertama memasak dengan kompor gas…

…Lalu tibalah giliran saya memasang semua komponen kompor itu. Berdasarkan petunjuk dari si produsen gas dan dari bibir ke bibir maka saya memberanikan memasang selang dan regulator ke tabung gas. Yang paling saya ingat adalah karet penyekat di mulut gas harus ada dan dalam kondisi baik. Karena karet itu yang membuat mulut regulator tidak miring dan gas tidak keluar kemana-mana.

regulator….Oke-oke..tancapkan mulut regulator ke bibir gas (wow…bibir ke bibir..)  dan putar keran pengalir gas ke atas. Dengarkan apa ada desisan dan bau gas yang mengalir keluar…Tidak ada yang terdengar, tidak ada yang berbau..putar igniter kompor…

jetak!!!!…tidak menyala !!!!, jetak!!!! masih tidak menyala !!!…

jetak!!!! dusss!!! Hurray !!!…..It’s Alive ! It’s Alive !!!

Whew…pengalaman yang mendebarkan !! Para pembaca boleh menyebut saya norak atau ketinggalan jaman. Tapi memang itulah adanya! Sejak itu keluarga saya mulai mengenal siapa sebenarnya si kompor gas.  Istri saya juga sekarang tidak serem melihat si kompor gas beraksi.

—————————-

Saya yakin banyak keluarga yang juga mengalami perasaan seperti saya. Memulai sesuatu yang baru memang butuh usaha yang tidak mengenakkan. Apalagi ini jelas-jelas keluar dari zona nyaman minyak tanah yang telah dinikmati Indonesia berpuluh-puluh tahun lamanya.

Tapi nyatanya jaman telah berubah. Telah terbukti penggunaan gas lebih hemat, lebih bersih, bahkan lebih aman. Saya rasa hitung-hitungan penggunaan gas tidak usah dibahas disini. Tapi yang ingin saya bagi pada pertemuan kita kali ini adalah jangan takut untuk memulai sesuatu yang baru.

Pemerintah telah berhasil mengubah pola konsumsi energi masyarakat menjadi lebih baik . Memang pada awalnya terlihat menyakitkan mengeluarkan uang lima belas ribu rupiah per isi ulang gas 3 kilogram. Tapi seiring dengan waktu uang tersebut ternyata dapat bertahan selama dua minggu bahkan lebih, dibandingkan dengan si Mitan yang meminta isi dompet Rp. 2,500 per hari.

Jadi bagi anda yang belum menggunakan gas….ini bukan iklan….ayo pakai gas !!!

Buat pemerintah jangan lupa makin besar demand harus makin besar pula supply

Jika gas tidak ada, mitan tidak ada. Ayo beralih ke kayu bakar !!!