GO….!!!! BLOG AWARDS — The Indonesia’s Worst TV Station 2008

Selamat malam para pemirsa interweb sekalian.

Mulai tahun 2008 ini GO….!!!! BLOG akan menganugerahkan penghargaan kepada stasiun-stasiun televisi di Indonesia.

Kategori yang GO….!!!! BLOG ketengahkan adalah :

1. The Worst TV Station 2008

2. The Best TV Station 2008

Mengapa GO….!!!! BLOG hanya menganugerahkan penghargaan dengan kategori diatas ? Sederhana saja, sebab televisi adalah sarana komunikasi yang paling efektif dengan sasaran segala usia, pekerjaan, derajat dan lainnya. Singkat kata, televisi adalah sarana yang terkuat untuk mencerdaskan-atau membodohkan bangsa Indonesia ini.

Faktor penilaian¬†GO….!!!! BLOG Award untuk kategori The Indonesia’s Worst TV Station 2008 adalah :

  1. Acara yang ditayangkan ; Apakah stasiun televisi menayangkan acara yang “dibutuhkan” masyarakat, ataukah yang “diinginkan” masyarakat ? Penilaian ini menjadi penilaian utama The Indonesia’s Worst TV Station 2008, karena tidak semua tayangan yang “diinginkan” masyarakat menjadi baik untuk semua lapisan. Lain dengan tayangan yang “dibutuhkan” masyarakat sudah pasti acara-acara yang ditayangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan, hiburan dan suri teladan.
  2. Konsistensi arah tujuan penyiaran ; Apakah stasiun televisi menayangkan acara-acara yang memang menjadi visi-misinya ? Apakah dalam perjalanannya stasiun televisi itu berubah mengikuti pola trend keinginan masyarakat ? Sebuah stasiun televisi yang konsisten sudah pasti akan tetap mengikuti pola-pola sesuai visi dan misinya. Bila menjadi berubah mengikuti keinginan masyarakat sudah pasti stasiun televisi tersebut adalah stasiun yang hanya mengedepankan margin keuntungan dari iklan dan tidak mempedulikan akibatnya bagi masyarakat banyak.

Baik, langsung saja saya bacakan nominator untukThe Indonesia’s Worst TV Station 2008 :

Trans7

Trans7

Menjadi “adik” dari Trans TV ternyata tidak otomatis menaikkan pamornya. Malah semenjak bergabung dalam Trans Corp. Company dengan nama Trans7 sepertinya malah kehilangan jati diri. Dan juga sepertinya Trans Corp. hanya melirik Trans7 berdasarkan rating beberapa acaranya yang sangat tinggi, contohnya Empat Mata yang dibintangi oleh Tukul Arwana. Lihatlah kini Trans7 : Hanya acara Empat Mata itulah yang menjadi andalannya. Film-film asingnya pun selalu film grade “B” alias murahan. Tayangan MotoGP yang dahulu menjadi identitas TV 7 kini terlihat dibuat setengah hati.

SCTV

SCTV

Menjadi stasiun televisi swasta kedua yang ada di tanah air seolah tidak menjadikan SCTV menjadi stasiun televisi yang disegani. Dengan membabi buta SCTV menayangkan tayangan-tayangan lokal dan tidak memperhatikan dampaknya bagi penonton. Sebutlah sinetron-sinetron bertema cinta yang tidak bermutu yang ditayangkan mulai pagi hingga larut malam, tayangan variety show bertema cinta yang jelas-jelas mengurusi masalah anak muda yang tidak patut diurusi. Reputasi Liputan6 SCTV pun tenggelam bersama naiknya sinetron-sinetron sampah. Bagaimana tidak ? Disaat Liputan6 mengedepankan keakuratan dan realita kehidupan, sinetron sampah yang ditayangkan SCTV malah jauh dari akurat dan realitas kehidupan. SCTV kini hanya menjadi mesin pemuas rating dan iklan. Sungguh naas.

RCTI

RCTI

RCTI sebagai stasiun televisi swasta pertama di tanah air seharusnya bisa menjadi pemimpin pertelevisian Indonesia, tapi dalam kenyataannya malah menjadi pengikut trend dan penjiplak acara stasiun teve lainnya. Konsistensi acara-acara-nya pun dipertanyakan dengan munculnya acara dangdut Joged. RCTI yang tadinya sombong sekali tidak mau menayangkan acara-acara khas Indonesia nyatanya ikut menayangkan musik dangdut karena sedang “in”. Bagaimana dengan pabrik sinetronnya ? Sama seperti SCTV, RCTI juga menayangkan sinetron sampah dengan episode tak berujung. Seputar Indonesia yang juga menjadi pelopor siaran berita TV swasta kini hanya menjadi tayangan yang biasa saja.

TPI

TPI

Apa kepanjangan dari TPI sekarang ini ? Masihkah menjadi Televisi Pendidikan Indonesia ? Jauh dari itu !

Dengan tanpa rasa malu TPI menyembunyikan identitas aslinya namun masih menyimpan “tanda pengenalnya”. Berawal dari stasiun yang mempunyai misi pendidikan dengan tayangan-tayangan yang pro-sekolah kini ikut-ikutan trend “mencari bintang mendadak” dengan durasi tayangan yang luar biasa panjang. Kontes yang hanya membuai para penonton dan pengiklan, sinetron yang tidak jelas tujuan penayangannya, redaksi berita yang pas-pasan, serta film-film lepas keluaran tahun 1980 kebawah menjadi ciri khas stasiun yang lupa identitasnya ini. Semua demi iklan ? Sungguh memalukan.

TVOne

TVOne

TVOne adalah generasi penerus dari Lativi yang juga bingung dengan identitas dirinya. Tidak banyak yang bisa diungkapkan mengenai stasiun televisi ini, hanya yang bisa dikenali dari stasiun ini adalah acara-acaranya yang masih semrawut dan terkesan hanya mengisi waktu saja. Sebutlah acara-acara dokumenter dunia hewan, dan tayangan video-video lucu dari luar negeri. Mudah-mudahan ini hanyalah proses peralihan dari doktrin lamanya saja.

IVM

IVM

Sungguh mengejutkan Indosiar masuk dalam nominasi kategori The Indonesia’s Worst TV Station 2008, sebab pada awal kemunculannya IVM (Indosiar Visual Mandiri) menjadi kuda hitam di pertelevisian tanah air. IVM sempat juga mengambil “kue” iklan dari stasiun swasta lainnya berkat kombinasi acara-acaranya yang brilian. Namun tengoklah kini, Indosiar adalah lumbung sinetron yang tidak masuk akal. Sinetron yang berlatarkan sejarah namun dengan setting moderen dengan properti yang murahan dan asal jadi. Ditambah lagi dengan kontes-kontes “mimpi” yang juga jelek dan tidak mendidik serta durasi yang juga luar biasa panjang. Film-film lepasnya pun murahan dan bergrade “B”.

Itulah tadi nominasi untuk penghargaan The Indonesia’s Worst TV Station 2008. Siapakah yang menjadi pemenangnya ? Stay tune di Blog ini esok hari !..